Posted by: shabrinafarhanisa on: July 16, 2011
Di saat kita merasa lemah, mungkin saat itu kita sedang melupakan-Nya. Melupakan bahwa ada tangan-Nya yang mampu menolong kita, yang masih menyayangi kita, yang masih memberikan kita kesempatan untuk beramal walau amalan itu hanya berbentuk amalan hati, yaitu bersabar dan berlapang dada.
Meskipun kita (di saat merasa lemah) hanya mampu bersabar, jangan dikira itu tak bernilai. Justru di situlah kita bisa mendapatkan pahala tanpa batas, dosa-dosa yang berguguran, dan nikmat-nikmat yang lain asalkan kita mampu memadukan sabar dengan syukur. Dengan begitu, akan ada banyak hikmah yang tergali dan tampak oleh kita yang bisa saja tersembunyi ketika pikiran negatif yang mendominasi.
Segala hal yang kita nilai itu adalah kebahagiaan ataupun kesedihan, pada hakikatnya tergantung dari pikiran kita. Jika senantiasa berusaha untuk berbaik sangka pada-Nya, InsyaAllah setiap detik yang kita lewati akan dirasakan sebagai kebahagiaan. Begitu pun sebaliknya.
Jika saat ini kita merasa “ditinggalkan” oleh teman-teman kita dalam mengerjakan amanah komunal, tetaplah berprasangka baik kepada teman-teman kita dan juga kepada Allah. Barangkali teman kita tersebut sedang menjalani amanah yang lebih berat dari kita atau lebih besar dampaknya jika tidak diprioritaskan. Dan mungkin juga Allah hendak memberi kita ladang amal, ladang ilmu, dan kesempatan untuk bisa memperkuat ukhuwah dengan teman-teman yang masih bersama-sama dengan kita dalam amanah tersebut. Atau barangkali juga, Allah ingin supaya kita lebih dekat pada-Nya, memohon kekuatan pada-Nya dalam mengerjakan amanah tersebut di saat yang lain “meninggalkan” kita.
Dan pada akhirnya, sungguh beruntung menjadi seorang muslim, setiap waktunya bisa dirasakan sebagai sebuah kebahagiaan. Bila mendapat cobaan, ia bersabar dan dengan kesabarannya itu ia akan mendapatkan ampunan, kasih sayang, dan pahala yang berlimpah dari-Nya. Bila mendapat kesenangan, ia bersyukur dan karena itu, akan bertambah lagi nikmat-nikmat dari-Nya.
Posted by: shabrinafarhanisa on: July 9, 2011
Mau tahu apa pendapat Justin Timberlake, seorang penyanyi pop asal Amerika Serikat, tentang cinta sejati?
Kurang lebih begini ucapannya (maaf, kalau ada redaksi yang sedikit berbeda dari perkataan aslinya).
“Cinta sejati adalah dia yang paling terakhir hadir dalam pikiran sebelum kamu tidur dan yang paling pertama kamu ingat di saat kamu bangun tidur.”
Hal ini tentu menarik untuk ditelusuri lebih dalam pada diri kita sendiri. Siapakah cinta sejati kita selama ini? Apakah Dia atau dia yang lain? Entah itu makhluk hidup atau benda mati. Tak jarang mungkin kita tertidur dalam keadaan memikirkan selain Dia di saat menjelang tidur maupun mengingat selain Dia untuk pertama kalinya ketika bangun tidur. Handphone, sms-sms, tugas-tugas yang belum selesai, notification di facebook, BBM (Black Berry Messenger), dan kawan-kawannya, barangkali sudah menjadi “makanan” kita sehari-hari yang menyebabkan kita tertidur di sampingnya dan ketika bangun pun pertama kali mengingatnya. Walaupun dalam kerangka dakwah misalnya, jika itu terjadi pada kita, berarti kita telah memosisikan selain Dia untuk menjadi nomor satu dalam kehidupan kita.
Padahal kita tidak diminta untuk memurnikan ketaatan hanya pada Allah.
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. 98:5)
Jangan sampai kita terbiaskan oleh hal-hal yang baik yang pada hakikatnya malah menomorsatukannya daripada Dia.
Posted by: shabrinafarhanisa on: July 2, 2011
Di penghujung masa UAS (Ujian Akhir Semester) tahun ajaran 2010/2011 pada bulan Mei lalu ada satu kegiatan Gamais yang sayang sekali jika dilewatkan begitu saja.
Adakah di antara Sahabat yang bisa menebaknya?
Yap, tepat sekali !
Apa lagi kalau bukan DMT (Daurah Mentor Terpusat)
.
DMT adalah sebuah kegiatan pembekalan bagi para calon mentor yang ke depannya akan menjadi mentor. Mengikuti kegiatan DMT merupakan sebuah langkah awal yang harus ditempuh oleh para calon mentor untuk memenuhi lumbung-lumbung ilmunya sebelum nantinya diterjunkan untuk menjadi mentor di kampus. Karena menjadi mentor bukanlah suatu hal yang begitu saja dijalani tanpa persiapan, melainkan haruslah memiliki bekal yang cukup agar mampu bertahan dan keluar sebagai pemenang peradaban.
DMT diselenggarakan pada tanggal 25-26 Mei 2011 (menginap) dan bertempat di kompleks Masjid Salman, Bandung. Acara ini diikuti oleh sedikitnya 60 orang calon mentor yang tersebar di berbagai fakultas yang ada di kampus ITB. Walaupun ada beberapa peserta yang masih harus mengikuti UAS, mereka tak surut melangkahkan kaki untuk mempererat silaturrahim, menggali hikmah, dan meraih ilmu di acara ini
.
Diawali dengan menonton film “Sang Murabbi” pada siang harinya (25 Mei), para peserta menjadi lebih terpacu untuk dapat menjadi mentor yang mampu menginspirasi dan memotivasi orang-orang di sekitarnya.
Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian urgensi pembinaan oleh kak Deden FI’06 (Fisika 2006) dan pada malam harinya, para peserta menyaksikan talkshow dengan tema “Mentor Teladan”. Talkshow ini dipandu oleh Derian TM’09 (Teknik Perminyakan 2009) dan menghadirkan kak Faiz MT’07 (Teknik Material 2007) dan kak Dito dari Fakultas Kedokteran UKM (Universitas Kristen Maranatha) angkatan 2007. Di sinilah para peserta diajak untuk menyelami lautan inspirasi tentang dunia mentoring. Ada kebahagiaan tersendiri ketika kita bisa mengubah orang lain untuk menjadi lebih baik. Ada suatu “keterpaksaan” yang menyebabkan kita semakin rajin untuk menimba ilmu dengan membaca buku. Ada pahala yang senilai dengan unta merah serta langit dan bumi beserta isinya yang Allah janjikan untuk orang-orang yang mau mengajak orang kepada jalan kebaikan.
Esok paginya, kak Rendy Saputra (owner dari Saputra Empire Business Group) menyampaikan pesan tentang komitmen seorang mentor. Seorang mentor akan diuji dengan kendala-kendala di lapangan, seperti kekurangan finansial, kemalasan, maupun godaan-godaan dunia yang lain. Maka seorang mentor harus memiliki komitmen yang tinggi untuk dapat melewati semua rintangan tersebut. Komitmen yang tinggi takkan tercapai jika tidak memiliki ketauhidan yang benar. Ketauhidan yang benar akan senantiasa membimbing kita untuk berjalan tanpa henti, melangkah tanpa ragu, dan berlari tanpa lelah karena kita menyadari bahwa di ujung sana (akhirat), balasan dari Allah SWT jauh lebih sempurna daripada berbagai kenikmatan yang ada di dunia ini.
Setelah penyampaian materi mengenai komitmen seorang mentor, kegiatan DMT dilanjutkan oleh acara training komunikasi yang dibawakan oleh kak Cecep Pratama MA’05 (Matematika 2005) dan materi ditutup dengan penjelasan mengenai urgensi pendataan oleh kak Luthfi IF’07 (Teknik Informatika 2007).
Alhamdulillah, semoga Allah menjadikan kita sebagai mentor yang mempunyai pribadi yang selalu dikaruniai keikhlasan dan keistiqomahan dalam menduniakan peradaban Islam
.
Posted by: shabrinafarhanisa on: May 18, 2011
Salah satu penyebab kefuturan adalah terlalu memaksakan diri dalam beribadah (ingin semuanya dikerjakan). Padahal Allah tidak memaksakan dan memerintahkan agar kita mengerjakan yang kita mampu saja (untuk saat ini). Ini karena memaksakan ibadah dapat menyebabkan kita cepat lelah dan bosan sehingga futur menghampiri kita. Kerjakanlah semampunya dan teruslah memohon kepada Allah agar kita bisa terus dalam keistiqomahan. Allah pasti mendengar doa kita. Jika kita khawatir bahwa perlahan kita akan menjauh karena hanya ibadah yang mampu saja yang kita kerjakan, hilangkanlah pikiran itu. Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya dan jika kita khawatir, ingatlah bahwa jika kita mendekat kepada-Nya dengan berjalan, Allah akan mendekati kita dengan berlari. Karena amat banyak amal saleh yang bisa dikerjakan, pilihlah yang sesuai dengan kemampuanmu karena kita takkan bisa mengerjakan semuanya.
Referensi: buku Fiqh Prioritas karya Yusuf Qardhawi
Posted by: shabrinafarhanisa on: May 18, 2011
“dan tidak ada (pula dosa) atas orang-orang yang datang kepadamu (Muhammad) agar kamu memberi kendaraan kepada mereka lalu kamu berkata,” Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,” lalu mereka kembali, sedang mata mereka BERCUCURAN AIR MATA karena sedih, disebabkan mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan (untuk ikut berperang).” (QS. 9:92)
Semoga Allah mengaruniai kita hati yang peka dalam merasakan hilangnya peluang-peluang kita untuk beramal saleh.
Posted by: shabrinafarhanisa on: May 18, 2011
Sungguh, betapa cintanya Allah kepada kita, yang memberikan kita kesempatan untuk mencetak para arsitek peradaban yang nantinya akan membuat Indonesia kembali tersenyum dalam cahaya Islam.
-Salam semangat buat Ellin, Sika, dan Tania-
(young sisters in BKM Gamais 2011)
Posted by: shabrinafarhanisa on: May 18, 2011
Janganlah sekali-kali meremehkan kebenaran walau hanya sebaris jarkom, sebait lagu yang dilantunkan oleh pengamen, selembar kertas yang ditempel di papan pengumuman, sebuah status yang muncul di fb, dan hal-hal kecil lain yang singgah dalam perjalanan hidup kita sehari-hari. Ini karena bisa jadi dengan cara-cara seperti itulah Allah memberi petunjuk, hidayah, dan rezeki-Nya kepada kita. Jangan sampai juga kita termasuk orang yang sombong (menolak kebenaran).
Posted by: shabrinafarhanisa on: May 17, 2011
Cukuplah Allah untuk segala usaha kita.
Cukuplah Allah untuk segala pengorbanan kita.
Cukuplah Allah untuk segala doa yang kita panjatkan.
Cukuplah Allah untuk segala kelapangan hati kita.
Cukuplah Allah untuk curahan tangis dan air mata kita.
Karena balasan yang sempurna hanyalah dari Allah yang akan disempurnakan di akhirat kelak.
Posted by: shabrinafarhanisa on: March 8, 2011
Salah satu hikmah terpenting yang bisa dipetik pada hari ini adalah…
“Betapa ketahanan jiwa (ruhiyah) itu amatlah vital dan takkan bisa tergantikan oleh yang lain. Karena ketika ketahanan jiwa ini mulai rapuh, akan rapuhlah bagian-bagian yang lain dalam diri kita, entah itu akal, raga, maupun jiwa itu sendiri. Maka menjaganya dan terus menghidupkannya adalah suatu kewajiban yang sama sekali tak bisa ditinggalkan.”
Posted by: shabrinafarhanisa on: March 8, 2011
Berbicara mengenai ukhuwah, tentu saja takkan habis luapan kisahnya. Suka dan duka selalu menjadi sobat akrab “makhluk” yang satu ini yang kemudian mewarnai cerita kita dalam cinta dan air mata
.
Hmmppff… ukhuwah ya??? (kok bingung? ngga kok ^^)
Ukhuwah bukan sekedar senyum, sapa, salam, sopan, dan santun. Namun, menurut saya, ukhuwah itu…
konfirmasi
izin
tabayyun
berlapang dada
perhatian
saling memahami
saling mengerti
saling berbagi
membalas sms ![]()
ber-husnuzhan
responsif (walau tak selalu harus segera dilakukan)
saling menasihati
saling menjaga
saling mengingatkan
saling mendoakan
memaklumkan
memaafkan
bersabar
……………
dan maaasiiiih banyak lagi
Walaupun tak selalu mudah, semoga kita bisa terus menghidupkan sebaik-baik ukhuwah.
Yuk, kita belajar bersama-sama untuk mewujudkannya
.
Posted by: shabrinafarhanisa on: March 8, 2011
Sungguh, sabar itu tak hanya ketika menghadapi ujian maupun musibah, tetapi juga sabar untuk tetap istiqomah, sabar dalam menjalankan amanah, dan sabar dalam berukhuwah. Selain ketiga hal itu, masih banyak jenis kesabaran yang lain.
Sabar dalam berukhuwah.
Hmm…mungkin ini salah satu hal yang tak mudah dilakukan, terlebih ketika saat-saat sekarang.
Mudah-mudahan kita bisa terus berlatih untuk hal yang satu ini
.
Yap, karena ukhuwah adalah realita, bukan sekedar kata
.
Posted by: shabrinafarhanisa on: February 13, 2011
Astaghfirullaahal’azhiim…
*Jangan ‘menyebarkan’ kegalauan dan / atau kelabilanmu a.k.a. kefuturan-mu ke lingkungan sekitarmu karena bisa menyebabkan efek domino. Udah tau kan maksudnya?
Posted by: shabrinafarhanisa on: February 11, 2011
Berbicara mengenai kimia, pastilah tak akan habis-habisnya. Mengapa demikian? Karena kimia itu sendiri telah sedemikian rupa berkontribusi dalam membangun kehidupan ini melalui zat-zat yang menyusun seluruh elemen yang di alam semesta.
Makhluk hidup sebagai salah satu komponen yang ada di alam semesta tersusun atas materi-materi yang membentuk suatu unit sel. Lalu sekumpulan unti sel ini bergabung membentuk jaringan yang selanjutnya membentuk organel untuk kemudian membentuk sistem organ. Berikutnya, organ-organ inilah yang menjadi cikal bakal organisme, seperti manusia. Bila kita amati, ada suatu sistem dan ketetapan yang mengaturnya, seperti ikatan antarunsur dan antarmolekul yang terlibat dan reaksi-reaksi kimia yang terjadi di dalamnya.
Dalam menjalani kehidupannya, makhluk hidup membutuhkan benda-benda ‘mati’, seperti udara, tanah, dan air. Ketiga komponen tersebut tersusun dari material-material yang saling berikatan dan bergabung satu sama lain. Untuk manusia, kebutuhannya tak sekedar udara, tanah, dan air. Namun, lebih dari itu. Manusia membutuhkan pangan, sandang, papan, kesehatan, dan seterusnya agar peran dan fungsinya sebagai manusia bisa berjalan optimal. Sementara itu, bila kita perhatikan sebagian kecil saja dari aspek pangan, sandang, dan papan, pastinya ada kontribusi kimia di dalamnya, baik untuk zat makanan, elemen yang menyusun kayu untuk menopang rumah, dan kapas yang menjadi bahan dasar dari kain untuk pakaian. Semua itu membutuhkan kimia sebagai aspek dasar yang membangunnya. Lantas, jika semua aspek yang tadi disebutkan sangat melibatkan kimia di dalamnya, bagaimana dengan aspek lainnya seperti sains dan teknologi? Dengan demikian, tidak mungkin kehidupan ini ada tanpa kimia.
Posted by: shabrinafarhanisa on: February 3, 2011
Ketika pernak-pernik handphone telah mengisi seluruh ruang di pikiranmu sehingga tak lagi khusyuk dalam shalatmu
Ketika sms telah menjadi napasmu yang melampaui dzikirmu
Ketika yang terpikir pertama kali saat bangun tidur adalah “ada sms baru atau tidak?”
Ketika membalas sms lebih kau dahulukan daripada mempersiapkan shalatmu
Ketika ketidakkhusyuan dalam shalat tidak menjadi kekhawatiranmu
Ketika menghilangnya hapalanmu tidak kau cemaskan
Ketika doa-doa panjang di malam terakhir tak lagi sempat kau sempurnakan
Ketika tilawah menjadi prioritas terakhirmu dalam menutup hari yang panjang
Maka siapakah Tuhanmu hari ini?
Posted by: shabrinafarhanisa on: January 22, 2011
Dear all, kawan2 di manapun dirimu berada.
Betapa banyak hikmah dan pelajaran yang Allah berikan kepada kita. Dari mulai terbukanya mata ketika bangun tidur hingga terpejamnya mata kembali di saat tiba waktu tidur. Hari-hari pun penuh dengan kejutan-kejutan yang Ia berikan, baik itu ujian, kebahagiaan, maupun cobaan lainnya. Terhadap hal tersebut, tentulah menjadi ladang amal tersendiri untuk kita bagaimana menyikapinya.
Semakin bertambahnya hari, amanah ini semakin banyak dan seakan tak peduli atas keluhan-keluhan yang datang dari para pengemban amanah ini. Beramanah di suatu tempat, bukan berarti lepas meninggalkan amanah lain karena peran kita di dunia ini tak hanya di satu tempat. Ini karena kita masih membutuhkan mereka dan mereka masih membutuhkan kita untuk memperbaiki kehidupan manusia di bumi ini.
Semakin tinggi posisi kita, tentu semakin sering permintaan yang datang kepada kita untuk membenahi bagian lain yang belum baik keadaannya. Maka bersyukurlah bagi orang-orang yang sering dimintai tolong bahwa Allah masih memberikan banyak kesempatan untuk berbuat baik. Bahwa Allah menjaga kita dengan amanah-amanah yang Ia berikan. Bahwa Allah menjaga kita dari kebingungan-kebingungan yang sering menyerang orang-orang yang bingung tentang apa yang akan ia lakukan untuk menghabiskan waktunya. Bahwa Allah menjaga kita dari kesenangan menghabiskan waktu luang dengan hal-hal yang tak bermanfaat. Bahwa Allah ‘memaksa’ kita untuk selalu meng-upgrade kapasitas diri kita agar menjadi manusia yang senantiasa baik dari hari ke hari bisa menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya.
*Ya Allah, ampuni kami untuk amanah yang terlalaikan dan ketidakmampuan kami untuk menjalankannya.*
yanG t'akhiR kasiH tanggapaN