The Ink of Life


Akhirnya Datang Juga

Alhamdulillahirabbil’alamin, setelah melalui berbagai proses yang diwarnai suka, duka, tawa, canda, dan air mata (ga seserius ini ko’) akhirnya KIT (Kajian Islam Terpusat) berhasil diselenggarakan di GSG (Gedung Serba Guna) ITB (Institut Teknologi Bandung) pada tanggal 23 Mei 2009.
Dimulai sekitar pukul 8 pagi dan selesai sekitar pukul 12.30, acara yang didukung penuh oleh GAMAIS (keluarGA MAhasiswa ISlam) ITB ini menghadirkan pak Ichsanuddin Noorsy (pengamat ekonomi dan politik nasional), pak Mustafa Edwin Nasution (ketua IAEI (Ikatan Ahli Ekonomi Islam), pak Wahyu Saidi (pengusaha bakmi, alumni ITB ), dan pak Ramzi A. Zuhdi (direktur direktorat perbankan syariat Bank Indonesia) sebagai pembicara.
Peserta yang hadir di acara ini berjumlah 475 orang. Mereka datang dari berbagai kalangan dan dari dalam dan luar ITB.
Lantas, bagaimana jika para peserta ingin mendapatkan materi presentasinya? Berikut jawabannya:
1. Presentasi dari pak Mustafa Edwin Nasution
http://nicedaysblue.web.id/download/KIT1.pdf (Format PDF size 858KB)
2. Presentasi dari pak Ramzi A. Zuhdi
http://nicedaysblue.web.id/download/KIT2.pptx (Format PPTX size 511KB)
3. Presentasi dari pak Ichsanuddin Noorsy
http://nicedaysblue.web.id/download/KIT2.ppt (Format PPT size 1094KB)
Tersedia di milis am_mata08@yahoogroups.com
dan
di http://nicedaysblue.web.id
Mengingat keterbatasan bandwith website ini, tolong didownload dengan bijak. Postingan ini hanya akan bertahan selama 2 bulan saja. Jadi, silakan manfaatkan dengan sebaik-baiknya dan kalau bisa, beri tahukan juga kawan-kawan.


Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan

Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali
Kita berbincang tentang memori di masa itu
Peluk tubuhku usapkan juga air mataku
Kita terharu seakan tidak bertemu lagi

Bersenang-senanglah
Kar’na hari ini yang ‘kan kita rindukan
Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah
Kar’na waktu ini yang ‘kan kita banggakan di hari tua

Reff:
Sampai jumpa kawanku
S’moga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan
Sampai jumpa kawanku
S’moga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

Bersenang-senanglah
Kar’na hari ini yang ‘kan kita rindukan
Di hari nanti…

Ke: Reff

Mungkin diriku masih ingin bersama kalian
Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian

Masih ingat aku dengan lagu itu.
Lagu yang pernah dinyanyikan oleh kawan-kawan saat perpisahan SMAN 78.
Masih berharap tali itu tidak akan pernah putus walaupun berjauhan kedua ujungnya.
Persahabatan itu bagaikan tali.
Sebuah tali yang panjang jika ingin disebut sebagai tali yang kuat tentu harus dibuktikan dulu.
Bagaimana cara membuktikannya?
Mungkin salah satu caranya adalah dengan sama-sama menarik kedua ujungnya.
Kalau tidak putus, berarti tali itu kuat.
Namun, sekali putus, berarti tali itu tidak kuat.
Seperti inilah mungkin analogi sebuah persahabatan.
Semakin jauh ditarik, semakin bisa menunjukkan apakah tali itu kuat atau tidak.
Dan ketika tali itu putus, terbuktilah bahwa sebenarnya tali itu rapuh karena sebuah tali itu dapat dikatakan kuat apabila ketika ditarik berjauhan, dia tidak putus.
Sekarang, saat ini, ketika kita, yang mempunyai kawan dan sahabat lama, berpisah, analogi di atas pun bekerja.

NB : lirik diambil dari http://kapanlagi.com


Di Saat Mekkah Memanggil

Ngomong-ngomong tentang Arab Saudi, pernahkah kita mendengar tentang hal-hal yang belum pernah dikupas dari negara itu? Insya Allah kita semua sudah tahu kalau haji dan umrah dilaksanakan di negara itu (Masa’ ada yang ga tau c?). Pun, kita tahu jika Arab itu adalah negara yang sistem pemerintahannya berbentuk kerajaan.
Let me tell some parts of Arab’s story!
Dari mana ya enaknya dimulai?
Okay, kita pasti tahu jika Arab adalah negara yang tandus banget. Jadi, ga heran di sana bila musim panas, suhunya bisa mencapai lima puluh derajat celcius dan ketika musim dingin, suhunya bisa sekitar belasan derajat celcius di bawah nol. Wah, bedanya jauh banget ya? Dan ketika musim panas kayak sekarang di sana, kurma lagi musim sehingga kita Insya Allah dapat menemukan kurma jenis apa pun di sana.
Untuk kehidupan sehari-hari, jika di sini kita melihat yang sering pergi ke pasar adalah ibu-ibu dan kaum perempuan pun juga banyak yang menjadi penjual di pasar, di sana nggak. Malah, kita akan sering menyaksikan kalau kaum bapak-lah yang lebih sering pergi ke pasar dan yang berjualan juga amat lebih banyak dibandingkan dengan kaum perempuan. Ini disebabkan negara Arab amat menghormati wanita sehingga di antara efeknya adalah ketika ada wanita yang ingin menyebrang jalan, kendaraan-kendaraan langsung melambatkan lajunya untuk kemudian berhenti. Tidak peduli walaupun hanya seorang wanita. Namun, mungkin ini mengakibatkan adanya kelemahan, yaitu hampir tidak dijumpai wanita-wanita yang duduk di pemerintahan.
Selain itu juga, sangat disarankan muslimah mengenakan cadar jika pergi keluar rumah. Ini untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Pada umumnya, para muslimah Arab mengenakan abaya, yaitu sejenis pakaian yang seluruh tubuh dan jilbab juga tentunya. Abaya dan jilbab yang dipakai pun berwarna gelap.
Nah, bicara soal rumah, di dalam rumah mereka juga disediakan ruang tamu untuk perempuan. Waw, betapa mereka amat menghormati wanita!
Bagaimana tentang kegiatan ekonominya?
Arab memang terkenal dengan sumber minyaknya yang berlimpah ruah, sampai-sampai ada lelucon seperti ini, “Kalau saya bisa minum bensin, saya pasti akan beli bensin daripada air”. Lho kok bisa ada lelucon seperti itu ya? Lelucon seperti itu bisa jadi ada karena satu liter air harganya memang lebih mahal dibanding dengan harga satu liter minyak. Sebagai tambahan, harga sebuah barang yang dijual adalah sama di mana pun warungnya dan siapa pun penjualnya karena negara Arab memang telah menstandardkan harga sehingga tercipta keadilan. Kalau di Indonesia, belum tentu sama. Jika di warung S harga sebotol air mineral adalah dua ribu rupiah misalnya, bisa jadi di warung H atau B lebih mahal atau lebih murah. Di samping itu, harga sayuran juga lebih mahal daripada harga daging. Ya..mengingat negara yang tiap tahunnya sangat ramai dikunjungi ini memang tandus. Pembangkit tenaga listriknya juga dari minyak dan mungkin karena saking kebanyakan minyak,
pemerintahnya tidak membatasi jatah daya listrik per rumah. Pernah ada cerita dari seorang teman. Jadi, ketika dia kembali ke Indonesia dari Arab Saudi, dia membawa setrika produksi sana dan saat akan menyetrika pakaiannya di sini (Indonesia), tiba-tiba listrik rumahnya mati karena tidak kuat menahan beban daya yang terlalu besar.
Lantas, kalau kehidupan hukumnya gimana ya?
Di sini (Arab Saudi) jika ada orang yang terbukti melakukan kesalahan, biasanya paling lambat dua minggu sudah diadili. Intinya negara Arab bisa dibilang berkomitmen. Sementara itu, di Indonesia terkadang sebuah kasus baru selesai diusut jika telah memakan waktu yang berbulan-bulan, malah ada yang “menguap” entah ke mana. Hukum potong tangan dan hukum pancung pun bukan menjadi hal yang aneh di sana. Namun, bukan berarti asal potong dan asal pancung saja. Tetap ada batasan yang jelas bagaimana seorang pelaku kejahatan bisa mendapatkan hukuman seperti itu. Mengenai pembela hukum atau bila di Indonesia, kita lebih sering menyebutnya pengacara, kalau memang seseorang yang disangka melakukan kejahatan itu sudah terbukti bersalah, sang pengacara pun sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Mungkin kalau di sini (Indonesia), pengacara masih bisa melakukan upaya hukum untuk meringankan hukuman. Akan tetapi, tidak untuk di negara ini (Arab Saudi). Nah, tentang pelaksanaan hukuman potong tangan dan pancung, negara Arab memang memakai algojo untuk melaksanakannya dan juga disaksikan oleh masyarakat. Lalu, apakah algojo itu orang pilihannya raja atau perlu “audisi” dulu untuk menjadi seorang algojo? Untuk menjadi algojo, tidak harus ikut “audisi” dulu atau harus dipilih raja, tapi sistem pemilihannya adalah berdasarkan keturunan. Wah, unik juga ya! Jadi, begitu kita mengetahui bahwa suatu saat kelak ketika dewasa sudah menghampiri kita akan menjadi algojo, menggantikan orang tua kita, dari kecil kita sudah dibiasakan untuk melihat pengalaman yang “menyeramkan”. Selanjutnya, karena mengemban tugas yang begitu penting, keluarga algojo mendapat pengawalan yang superketat melebihi sang raja!
Sementara itu, kalau kita berbicara tentang masalah kesehatan, di sini yang ada hanya rumah sakit. Maksudnya, ga ada yang namanya puskesmas dan sebagainya karena sudah tercakup di rumah sakit. Selain itu, suster-susternya banyak yang berasal dari Filipina.
Kalau berbicara tentang buruh yang mendirikan bangunan, Arab memang banyak memakai buruh yang berasal dari India, Bangladesh, dan Pakistan.
Sekarang kita beralih ke dunia pendidikan.
Gedung yang dihuni murid perempuan tidak sama dengan gedung yang dihuni oleh murid laki-laki. Dengan kata lain, mereka dipisah. Namun, sekolah yang dibuat oleh kedutaan Indonesia tidak memakai sistem pisah gedung seperti ini.
Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Ada yang berencana untuk menetap di Arab Saudi?
Mekkah, tunggu kami di sana.
Amin…

Makasih buat temanku R*** yang sudah memberiku inspirasi.


Melihat di antara Dua Sisi

Suatu hari, alumni SMA-ku berniat mengadakan pertemuan di kota Bandung. Tentu saja shab senang banget karena sudah lama tidak bertemu mereka. Oleh karena itu, shab berencana akan main sebentar ke rumah tempat mereka menginap, yaitu di daerah Cikutra. Namun, shab ko’ sempat ragu ya, mau jadi berkunjung atau tidak? Saat itu shab berada di antara kebimbangan, antara ingin berangkat atau tidak karena pada hari yang direncanakan itu, sudah ada agenda yang ngantri untuk dijabanin, hehe. Sementara itu, kata hati juga bilang,”Masa’ sebentar aja ga sempat si?”.
Keesokannya, hari yang kunantikan itu pun datang. Shab dapat kabar bahwa saat itu mereka akan kembali ke Jakarta sekitar pukul 9 pagi. Sebelumnya, shab sempat melihat peta lokasi tempat mereka menginap dan menyimpulkan bahwa letaknya tidak terlalu jauh dari kost. Separah-parahnya, memakan waktu setengah jam. Namun, tetap aja ada keraguan, antara jadi atau tidak perginya. Okay, kuputuskan untuk tetap pergi dan sekitar jam 8 shab bersiap.
Dan…”kemalangan” demi “kemalangan” pun kutemui di jalan T_T, dari mulai salah turun angkot, salah naik angkot, salah masuk jalan, kelewatan, dan lain-lain. Selain itu, ternyata tempatnya lumayan jauh dari yang diduga sebelumnya.
Oh, rasanya sedih dan ketika itu shab berpikir bahwa Allah tidak berkehendak mempertemukan kami, selain itu waktu sudah menunjukkan pukul 9 lewat dan berarti kesempatanku untuk berjumpa dengan mereka sudah habis.
Sebenarnya, di saat “kemalangan-kemalangan” itu belum diakumulasi (masih sedikit), shab mikirnya bahwa ini adalah cobaan dari Allah, bukan suatu ketidaksetujuan-Nya. Akan tetapi, ketika di sepanjang perjalanan yang shab lebih banyak temui adalah “kemalangan”, shab jadi berpikir ulang,”Jangan-jangan Allah ga ridho”.
Memang, terkadang ketika dalam menjalankan suatu perbuatan, kita menemui banyak hambatan. Di satu sisi, Allah menguji kita dengan hambatan-hambatan itu untuk membuktikan apakah kita termasuk orang yang sabar? Apakah kita termasuk orang yang cepat mengeluh? Sementara itu, merupakan sunatullah bagi orang yang akan berbuat baik, ia pasti diuji terlebih dahulu.
Namun, bila yang kita dapatkan paling banyak adalah “kemalangan”, mungkin saatnya kita berpikir dan mengevaluasi, apakah yang kita lakukan ini diridhai-Nya atau tidak, sebelum kita mengalami “kerugian” yang lebih banyak.


Karakter Berdasarkan Golongan Darah

Memang benar ya? Yuk, kita lihat dulu.
Golongan darah A:
1) Berkepala dingin, kalem (cool), serius, dan sabar
2) Berkarakter tegas, bisa diandalkan dan dipercaya, tapi keras kepala
3) Merencanakan segala sesuatu dengan matang sebelum melakukannya
4) Terlihat tegar dengan menekan perasaan meskipun sebenarnya memiliki sifat yang lembek, seperti gugup, dan sebagainya.
5) Cenderung keras terhadap orang-orang yang tidak sependapat.
Golongan darah B:
1) Cenderung penasaran dan tertarik terhadap segalanya
2) Cenderung punya banyak kegemaran dan hobi
3) Bisa memilih prioritas dari sekian banyak hal yang dikerjakan
4) Cenderung ingin menjadi nomor satu
5) Tidak bisa melakukan sesuatu secara berbarengan
6) Dari luar terlihat riang, bersemangat, dan antusias, tapi tidak dalam diri mereka.
Golongan darah AB:
1) Perasaannya sensitif dan lembut
2) Bersimpati terhadap orang lain
3) Keras dengan diri mereka sendiri dan dengan orang-orang yang dekat dengannya
4) Cenderung kelihatan memiliki dua kepribadian
5) Sentimen dan memikirkan sesuatu terlalu dalam
6) Punya banyak teman, tapi butuh waktu untuk menyendiri dan memikirkan persoalan-persoalan mereka.
Golongan darah O:
1) Berperan dalam menciptakan gairah untuk suatu grup dan menciptakan keharmonisan
2) Pandai menutupi sesuatu sehingga terlihat tenang, riang, damai, dan tidak punya masalah sama sekali
3) Pemurah (baik hati), dermawan
4) Biasanya dicintai semua orang “love by all”, tapi keras kepala
5) Mudah dipengaruhi orang lain dan yang dilihat di tv.
By Jimmy H. E. W.


Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara.
Teringatku tiba-tiba dengan lagu itu.
Lagu di saat ku masih menjadi seorang siswa SD.
Dunia ini panggung sandiwara.
Sesungguhnya kita sedang bermain sandiwara di panggung ini, panggung dunia namanya.
Banyak sekali peran di dalamnya.
Ada yang menjadi tokoh protagonis dan ada pula yang menjadi tokoh antagonis.
Semua orang ikut ambil bagian.
Namun, bagian manakah kita?
Hanya kita dan Allah-Sang Pemilik Sandiwara-yang tahu.
Ketika sandiwara itu dimainkan, tentu ada pembagian peran bukan?
Ada yang menjadi orang kaya, ada yang menjadi orang miskin, ada yang menjadi penjahat, ada yang menjadi penjual korek api, dan sebagainya.
Dan…ketika sandiwara itu dimainkan, adakah yang protes, mengapa aku hanya menjadi penjual korek api? Atau mengapa hanya dia yang kaya?
Tentu saja tidak.
Karena para pemain sandiwara itu menyadari bahwa suatu sandiwara itu bagus untuk ditonton bila para pemainnya fokus pada perannya masing-masing.
Karena para pemain sandiwara itu mengerti bahwa pada saat seleksi pembagian peran, mereka akan mendapatkan peran yang sesuai dengan kemampuan mereka pada saat itu.
Sesungguhnya tidak ada peran yang tidak penting dalam sandiwara itu.
Meskipun hanya menjadi sebatang pohon yang berdiri tegak di sebuah taman.
Meskipun hanya menjadi air yang mengalir di sebuah sungai.
Tidak peduli para penonton mencemooh peran mereka lalu pergi meninggalkan mereka.
Tidak peduli jika hanya sedikit saja yang menonton mereka.
Karena mereka tahu bahwa nasib mereka tidak ditentukan oleh gemuruh tepuk tangan para penonton atau pun ketidaksenangan penonton terhadap peran yang mereka bawakan dan karena mereka tahu bahwa mereka akan mendapat imbalan hanya dari sang pemilik sandiwara, bukan dari para penonton.
Karena sesungguhnya para penonton itu hanya pelengkap yang bila kita “termakan” oleh gemuruh tepuk tangannya atau cibirannya, kita bisa-bisa memainkan peran yang tidak sesuai dengan kehendak kita di awal.
Lalu jika mereka tidak memainkan perannya dengan baik, mereka juga tahu bahwa mereka akan ditegur oleh sang pemilik sandiwara dan karena mereka juga menyadari bahwa keberlangsungan hidup mereka di panggung sandiwara ini ditentukan dari baik atau tidaknyakah mereka dalam memainkan peran.
Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita agar bisa menjadi pemain sandiwara yang baik di sini.
Amin…


Titik Kritis : Antara Hidup dan Mati

Apa yang terbayang ketika membaca rangkaian kata-kata di atas?
Kematiankah?
Koma-kah?
Habisnya seluruh harapan untuk hidupkah?
Mungkin itu benar.
Namun, apakah yang dinamakan titik kritis itu hanyalah kata-kata di atas?
Saat kita hanya punya uang sangat sedikit dan ketika itu juga ada orang yang memerlukan, kita pun tidak kuasa menolak gerakan tangan untuk memberikan uang tersebut. Alhamdulillah, Allah telah menyelamatkan kita dari titik kritis, yaitu saat-saat kita bimbang dalam menentukan keputusan pada keadaan tersebut dan Allah pun memilih kita sebagai seorang yang bersedekah di waktu sempit. Akhirnya pun, kita menjadi “lebih hidup” di hadapan-Nya.
Saat kita sudah disibukkan dengan kegiatan sehari-hari dan merasa sudah tidak punya waktu untuk membantu pekerjaan saudara kita yang lain, tiba-tiba saja hati ini tergerak untuk menolong. Lagi, kita pun menjadi makhluk yang “lebih hidup” di hadapan-Nya.
Saat kita seakan dikejar waktu dan tidak sempat untuk beribadah selain ibadah yang memang sudah biasa kita kerjakan, tiba-tiba tergerak hati kita untuk melakukan ibadah lainnya. Maka itulah saat-saat di mana Allah menggerakkan hati kita untuk memutuskan sesuatu yang mungkin kita sendiri tidak pernah memikirkan sebelumnya.
Mungkin saja jika kita masuk surga nanti (Amin…), yang menjadi faktor utamanya adalah saat-saat kritis seperti itu. Ketika kita mendahulukan Allah daripada yang lain dan ketika Allah ridha atas apa yang kita lakukan di saat-saat kritis tersebut. Mungkin kita pernah mendengar cerita tentang seorang wanita ahli ibadah yang masuk neraka karena mengurung dan menyiksa seekor kucing. Mungkin juga kita pernah mendengar seorang mantan pembunuh yang di akhir hayatnya mencapai husnul khatimah karena langkahnya untuk bertaubat sedikit lebih panjang dibandingkan dengan langkahnya menuju maksiat.
Dan mungkin saja nanti, ketika segalanya diperhitungkan, yang menentukan kita masuk surga atau neraka adalah saat-saat tersebut. Saat-saat kritis yaitu saat-saat di mana kita tidak terpikirkan untuk mendulang amal, tapi Allah-lah yang menggerakkan hati kita.


Menyadari Kehadiran Penolong Kita

“Tidak usah sedih Ukh! Aku tidak papa kok.. Sakit ini kan yang ngasih Allah..suatu saat pasti Dia akan mengabulkan do’aku, supaya Allah mengangkat beban ini dariku! Janji Allah itu pasti kok!” Lucu kedengarannya, Ia yang sakit…tetapi justru Ia yang selalu menguatkanku. Habisnya rembes sih setiap kali aku melihat keadaannya. Tinggal tulang berbalut kulit.

“Anti tahu, mungkin belum saatnya Allah menyembuhkanku. Tapi Aku tidak perlu sedih kan ? Dia selalu menolongku kok. Lihatlah..hampir setiap hari aku bisa melihat anti dan saudari-saudariku yang lain. Aku mempunyai ayah, ibu dan adik-adik yang setia bergantian menungguiku di sini. Anti lihat bapak yang di ujung sana itu. Keluarganya hanya datang ketika malam hampir menjelang saja. Tak kulihat ada yang menjenguknya. Juga Ibu di sana itu, hampir setiap saat beliau merintih, sepertinya amat kepayahan “ lanjutnya di sela suaranya yang lirih.

“Malah dengan sakit ini, banyak kebaikan yang aku peroleh. Bukankah hampir semua buku anti sudah kubaca? Dan…sepertinya anti mesti siap-siap hafalannya ketinggalan dariku. Setengah juz lagi..hafalan kita sama!” katanya sambil nyengir lebar. “Boleh…kutunggu !” sahutku akhirnya walau dengan mata yang tidak bisa mengering. Baru tadi Ibunya memberitahuku, kata dokter harapan hidupnya tidak lama lagi. Hanya keajaiban yang akan meloloskannya dari maut katanya.

Mengingat apa yang tiada memang mudah. Terlebih sesuatu yang sangat kita dambakan. Menjadi hamba Allah yang bersyukur bukan perkara yang mudah. Bahkan Rosullullah sampai kakinya bengkak karena sholat malamnya saking inginnya menjadi hamba yang pandai bersyukur..

Kita manusia…yang ketika satu kenikmatan tertunda, begitu mudahnya rasa syukur hilang. Bagaikan embun yang tertimpa mentari, sulit mempertahankan diri.. Begitu nikmat yang kita inginkan tertunda, seakan semua indra menjadi terpusat kesana. Semua pandangan tertuju ke satu arah semata.

Memandang diri menjadi orang yang paling lara. Menganggap diri orang yang tidak pernah bahagia. Sedangkan ketika ingatan menghitung kenikmatan orang lain, seakan semua kemudahan itu justru menjadi milik orang lain. Bukan diri kita. Kalau sudah seperti itu..alangkah sulitnya menjadikan hati penuh dengan kesyukuranNya.

Allah berjanji akan mengabulkan semua pinta. Apalagi yang terlantun di waktu-waktu istimewa. Dan semua mengetahui..setiap janji Allah adalah pasti adanya. Dia tidak pernah ingkar dengan janjiNya.

Kelemahan kita adalah..kita serignya tergesa dengan semua pinta. Inginnya tak tertunda. Padahal Dia ingin mengabulkan pinta kita pada saat yang tepat! Dan Allah mengetahui dengan pasti saat itu. Sedangkan nafsu kita selalu menginginkan do’a terkabul selang tak lama dari kita memanjatkannya. Dan dalam bentuk yang nyata.

Kawan…kalau kita renungkan, ada yang indah dalam pertolongan Allah…dan anehnya sangat sering tidak kita sadari. Kita tidak menyadari penolong-penolong dari Allah tersebut. Berapa seringnya itu terjadi pada kita.

Allah menguji kita dengan kefakiran. Dan kita berdo’a secepatnya Allah mengangkat kita dari ujian itu. Dari Lilitan Hutang misalnya. Saat itu seakan dunia begitu menghimpit kita. Seakan hanya orang lain saja yang di karuniai kelapangan rizki.

Padahal kalau kita menyadari..sebelum Allah mengabulkan do’a kita pada saat yang tepat suatu saat kelak.Lihatlah ! Dalam tenggang itu..Allah mendampingkan begitu banyak kemudahan pada kita. Begitu banyak kenikmatan yang seharusnya tidak luput kita syukuri.

Tidak kah kita sadari, dengan dipertemukan oleh Allah..orang yang meringankan beban lilitan utang kita, atau dilunakkan hutang kita. Atau diperpanjangnya waktu pelunasan hutang kita..itu semua adalah cara Allah untuk menolong kita.

Bahkan dipertemukannya kita dengan orang yg jauh lebih fakir dari kita..bukankah itu adalah cara Allah untuk menguatkan kita?.. Sehingga mental kita tetap bisa menanggung beban, karena ternyata masih ada orang yang lebih menderita dari kita dan ia kuat!… Hingga pada saat yang tepat Dia angkat beban kita. Dengan dimudahkan rizki, atau dengan jalan yang lainnya? Janji Allah tidak pernah salah. Dia adalah Pengabul Do’a..Dia hanya ingin meninggikan kualitas iman kita. Itu saja ! Kebaikan yang sering tidak kita sadari.

Juga masalah jodoh. Ketika saat itu belum tiba..seakan jiwa begitu berat menanggungnya. Semua sakit seakan berkumpul disana. Seakan diri terlempar di pojok-pojok kehidupan dan hanya orang lain saja lah yang berhak menerima kebahagian itu.

Sementara do’a tak terhitung..mengalir bagaikan air bah. Diwaktu-waktu mustajabah. Disisi lain kita meyakini Allah pasti akan mengabulkan do’a kita. Tetapi nafsu selalu membisiki kita..kenapa selalu orang lain yang bahagia ?

Kawan…tidakkah kita sadari..bahwa Allah tidak akan menguji kita melebihi kemampuan kita? Juga tidakkah kita yakini bahwa Allah akan mengabulkan do’a-do’a kita? Begitu juga keyakinan kita atas takdir Allah..kemana semua atsarnya ? Tertinggal di lembar-lembar catatan kah? Pada saat seperti inilah seharusnya ilmu itu kita bunyikan.

Tidak kah kita sadari..bahwa Allah hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kita. Jodoh yang tepat dan juga pada waktu yang tepat pula! Dan dalam setiap hembusan nafas kita…Allah selalu menghadirkan penolong-penolong untuk kita. Tidak kah engkau sadari begitu besarnya kasihNya untukmu ?

Lihatlah..Allah melunakkan hati kedua orang tuamu..sehingga tidak pernah mereka mendesak dan menyalahkanmu. Allah mempertemukanmu dengan orang-orang yang senantiasa menguatkanmu. Allah juga menghadirkan orang-orang yang jauh lebih berat bebannya daripadamu sebagai cermin, sebagai penguat dirimu.

Allah menjagamu dengan lingkungan yang membuatmu sibuk., sehingga beban bisa engkau alihkan..walau kadang untuk sementara. Allah juga yang selalu memudahkan semua urusanmu. Allahlah yang menghadirkan saudara-saudara seimanmu yang siap menolongmu.

Kawan…Pandang sekelilingmu ..Alangkah indah semua rajutan skenarioNya. Alangkah indahnya setiap kepingan-kepingan peristiwa yang Dia tata begitu indah sehingga membentuk bingkai kehidupan yang tanpa cacat cela.

Kemanakah syukur dan ridho kita? Kemanakah bentuk khuznudhzon kita? Sementara tidak ada cobaan yang dia berikan kepada kita tanpa Allah berikan penolongnya . Kemanakah syukurnya ketika ujian itu pun adalah cara Allah menaikkan derajat keimanan kita? Tidak ada sedikit pun yang tidak indah..ketika itu dari Allah.

Kawan…kuikut merasakan beratnya berkubang dalam ujian. Sakitnya seakan menggores jiwa. Tak terperikan. Tapi kita adalah hamba yang berharap menjadi hamba pilihanNya! Kita adalah prajurit-prajuritNya yang tertempa dengan tarbiyahNya. Tidak ada yang tak indah dalam hidup ini. Ujiannya adalah kenaikan iman kita. Karunianya pun adalah limpahan rahmatNya. Subhannallah.. Surga, ampunan dan ridho Allah adalah janjiNya kalau kita bisa melewatinya.

Kawan…mari sadari penolong- penolong yang dirancang oleh Allah disetiap lingkaran ujianNya. Jangan pernah berputus asa. Jadilah hamba Allah yang pandai bersyukur di setiap nikmatNya…dengannya semoga surga, ampunan dan ridhoNya menjadi milik kita. Amien ! Wallahu’alam bishowab !


Siapa Kita?

Siapakah orang yang sibuk ?
Orang yang sibuk adalah orang yang tidak mengambil pusing akan waktu sholatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s

Siapakah orang yang manis senyumannya ?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang di timpa musibah lalu dia berkata ” Inna lillahi wainna illaihi rajiuun” Lalu sambil berkata,” Ya Rabbi Aku ridha dengan ketentuanMu ini.”

Siapakah orang yang kaya ?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.

Siapakah orang yang miskin ?
Orang yang miskin adalah orang yang tidak puas dengan nikmat yang ada senantiasa menumpuk-numpukan harta.

Siapakah orang yang rugi ?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadah dan amal-amal kebajikan.

Siapakah orang yang cantik ?
Orang yang cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.

Siapakah orang yang memiliki rumah yang paling luas ?
Orang yang memiliki rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal amal kebajikan di mana kuburnya akan diperluaskan ke mana mata memandang.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi menghimpit ?
Orang yang memiliki rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal amal kebajikan lalu kuburnya menghimpitnya.

Siapakah orang yang mempunyai akal ?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni surga kelak karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.

Siapakah orang yang bijak ?
Orang yang bijak adalah orang yang mau mengajak kerabat-kerabatnya, teman temannya masuk kedalam surga dengan senantiasa mengingatkannya dan mengajaknya untuk sama-sama berbuat kebajikan dan mengumpulkan amal amalnya selama hidup di dunia.


Tiga…Tiga…Tiga

Tiga…tiga….tiga… bukanlah ungkapan teletabies yang mengajarkan mengeja angka, akan tetapi ini adalah rangkaian kata-kata berhikmah yang semoga saja mampu ‘menggelitik hati kita dan membawanya kepada perenungan OK……..

Tiga penyebab lestarinya kenikmatan :
Bersyukur kepada Allah atas nikmat itu
Memanfaatkannya dengan baik
Selalu memeliharanya dengan baik

Tiga macam akal wanita :
Akal yang mendorongnya bekerja tanpa pikiran
Akal yang selalu berpikir tetapi tidak berbuat apa-apa
Akal yang dihinggapi karat, tidak berpikir dan tidak bekerja.

Tiga hal yang paling sulit dilakukan :
Menyimpan rahasia
Melupakan luka hati
Memanfaatkan waktu luang

Tiga hal yang harus disegerakan :
Beramal Sholeh
Menguburkan jenazah,
Mengawinkan gadis dengan laki-laki yang sepadan [sekufu].

Tiga hal yang membinasakan :
Angkuh dan sombong
Kikir
Berbuat zina

Tiga golongan laki-laki :
Yang dikenal karena kepribadiaannya
Yang dikenal karena lidahnya
Yang dikenal karena hartanya

Tiga macam ulama :
Ulama yang hidup dengan ilmunya dan orang-orang menyertainya
Ulama yang hidup dengan memanfaatkan ilmunya tetapi orang-orang tidak bersamanya
Ulama yang ilmunya dimanfaatkan oleh orang lain, sedangkan dia membinasakan dirinya

Tiga hal yang menyebabkan hati keras dan membatu :
Tertawa tanpa sesuatu yang dikagumi dan dibanggakan
Makan tanpa rasa lapar
Berbicara tentang• hal-hal yang sia-sia

Tiga hal yang hanya terdapat dalam tiga perkara :
Kekayaan yang bersemayam di dalam jiwa
Kemuliaan yang terdapat pada kerendahan hati [tawadhu]
Keutamaan [kemuliaan] yang disebabkan oleh taqwa

Tiga buah pintu, yang barangsiapa melaluinya patut
ditimpa siksa Allah SWT :
Pintu syubhat, yang menyebabkan keraguan terhadap agama Allah
Pintu syahwat, yang menyebabkan orang mengutamakan hawa nafsu daripada ketaatan kepada Allah
Pintu kemarahan, yang menimbulkan permusuhan terhadap orang lain

Tiga kecantikan wanita :
Kecantikan yang tidak bisa dilihat kecuali oleh hati pria
Kecantikan yang terlihat oleh mata tetapi tidak dapat dirasakan oleh hati
Kecantikan yang tidak stabil [bertambah atau berkurang] sesuai dengan dandanan wanita.

[Disadur dari : Hikmah dalam Humor, Kisah dan Pepatah Jilid 6, GIP 1996]
Harisman Isa Mohamad


99,99% Tidak Sama Dengan 100%

Pada suatu hari ketika mendengarkan kuliah kalkulus, dosen bercerita tentang sebuah kisah nyata yang terjadi di luar negeri. Begini ceritanya (maaf jika ada perbedaan, tapi isinya insya Allah kurang lebih sama)…
Suatu saat ditemukan sebuah buku di balik reruntuhan sebuah rumah dan disinyalir buku itu adalah buku hariannya Hitler! Kontan langsung hebohlah seantero daerah itu, bahkan sampai ke media massa.
Akhirnya dikumpulkanlah beberapa ahli sejarah terkemuka di sana dan mereka pun berpendapat bahwa itu benar buku hariannya Hitler. Nah, media massa yang pertama kali memboomingkan penemuan ini tentunya sangat senang karena mereka akan mendapatkan keuntungan yang besar atas penjualan buku itu.
Akan tetapi, satu hal, ada seorang editor muda di media massa itu yang masih meragukan keaslian buku itu (apakah benar itu adalah buku hariannya Hitler?). Bagaimanapun juga, anjing menggonggong kafilah berlalu. Karena beliau adalah editor muda, suara beliau pun tidak didengar oleh editor senior.
Namun, editor muda ini tidak putus asa. Beliau lalu menghubungi penerbit yang akan menerbitkan buku itu (kalau jadi) dan mencoba mengajak penerbit itu untuk berpikir ulang.
Setiap kali ditanya, “Anda yakin akan menerbitkan buku itu?” Jawabnya selalu, “Ya, saya yakin”.
Akhirnya, karena terus-menerus ditanya hal yang sama dan tiba pada pertanyaan yang berbeda dan ketika ini ditanyakan, keesokan harinya adalah waktu untuk melaunchingkan buku itu!
“Berapa persen keyakinan Anda?” Tanya editor muda.
“Ya…sebenarnya saya tidak terlalu yakin. Keyakinan saya 99,99%.” jawabnya.
Mendengar jawaban itu, lantas diputuskan untuk memeriksa keaslian dari tinta yang ada di buku itu dan hasilnya adalah….
Itu bukanlah buku hariannya Hitler karena tinta itu baru berumur kurang dari sebulan.
Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa ketika kita memiliki harapan yang sangat besar dan di saat itu juga keyakinan itu pun tinggi terhadap apa yang diharapkan, kita cenderung untuk “memaksakan” nilai dari keyakinan itu benar-benar 100% dan melupakan 0,01% yang justru bila ditelaah lebih lanjut akan bisa membuat keputusan yang akan kita keluarkan menjadi lebih baik.


Invisible to Everyone

Pernahkah kita merasa sendiri?
Tentu saja pernah, bahkan bukan saja pernah, tapi kadang-kadang mungkin…
Mungkin kita lupa, di saat kita sedang membangun sebuah gedung besar yang nyaman untuk ditinggali, ada orang lain yang juga ikut berkontribusi dalam pembuatan gedung itu. Entah itu membeli bahan-bahan material, mengaduk semen, atau yang lainnya sehingga tidak terlihat oleh kita yang sedang membangun sebuah kamar di dalamnya.
Mungkin kita kurang menyadari, di saat kita sedang memperbaiki sebuah pipa yang bocor di kamar mandi, ada orang lain yang juga ikut membantu kita, baik itu dengan menyediakan palu, paku, maupun bahan-bahan material lainnya sehingga pipa itu pun bisa dipakai kembali.
Bukankah ketika seorang tukang bangunan yang sedang berada di atap rumah dalam rangka mendirikan sebuah rumah tidak dapat melihat temannya yang berada di dalam rumah, yang mungkin sedang membuat sebuah rancangan untuk ruang makan?
Bukankah ketika seorang tukang bangunan yang sedang mengecat dinding rumah bagian dalam tidak dapat melihat temannya yang sedang menyusun batu bata di bagian luar rumah?
Begitu juga ketika rumah itu selesai dibangun, rumah itu pun merupakan hasil kerja sama para tukang bangunan, bukan merupakan hasil pekerjaan sendiri walaupun tadinya para tukang bangunan itu pun tidak dapat melihat para temannya.
Begitulah kita, yang saat ini membangun sebuah rumah yang besar sekali dan bukan tidak mungkin kita terkadang merasa sendiri, seperti seorang tukang bangunan tadi.
Namun, tersenyumlah, karena saat ini (sebenarnya) kita tidak sendiri, tetapi bersama para “tukang bangunan” yang lain. :)


Dari Mata Lahirlah Astronomi

Kalau ditilik lebih dalam, ilmu astronomi itu ada karena manusia zaman dulu mengoptimalkan mata, pikiran, dan hatinya dalam melihat berbagai kekuasaan Allah yang ada di alam semesta ini sehingga lahirlah ilmu astronomi yang mungkin juga dikenal sebagai ilmu “langit”. Ya iya dunk, karena para astronom memang kerjanya ya.. mengamati langit dan benda-benda di dalamnya.

Subhanallah, ternyata hanya dari satu indra (didominasi oleh mata) yang Allah ciptakan untuk kita ini bisa muncul suatu ilmu yang selanjutnya akan berguna untuk kemashlahatan para makhluk di muka bumi ini.

Ada apa ya, dengan mata? Pasti pernah dengar kan pepatah yang bunyinya kayak gini, “Dari mata turun ke hati” ? Sepertinya ini ga berlebihan, pasalnya ketika kita mengamati sesuatu dengan mata pasti akan timbul suatu sambungan yang selanjutnya akan menyebabkan hati bermain dan diikuti oleh pikiran. Ga aneh kalau dari sinilah astronomi muncul.

Dan…ada juga hadits yang bilang jika kita harus menjaga pandangan ke hal yang bukan haknya. Jika dari situ bisa timbul sesuatu yang dahsyat, seperti ilmu astronomi, nah, dari sana juga bisa timbul hal dahsyat lainnya seandainya kita tidak menjaga pandangan. Shab pernah dengar juga bahwa mata menempati peringkat tertinggi sebagai indra yang paling banyak dipakai oleh manusia.

Nah, bisa jadi nih, para astronom adalah orang-orang yang dikategorikan Allah sebagai ulil albab , yaitu orang-orang yang baik dalam keadaan duduk, berbaring, dan tidur pun selalu memikirkan kebesaran-kebesaran Allah SWT.

Indah ya dunia ini dengan adanya mata..

langit malam

langit biru


Yang (mungkin) terlupakan –> part 2

Sobat-sobat, mudah-mudahan ini bisa menjadi manfaat untuk kita semua.

Kalau saat kita membuka email, kita agak mengabaikan email baru yang isinya tentang islam dibanding dengan email dari teman kita, yang mungkin kita agak terburu-buru ingin membacanya. Bisa jadi ini adalah satu pertanda jika kita lalai terhadap-Nya.

Merasa bahwa nasyid atau musik-musik islami adalah salah satu hal yang “wajib” didengar di saat kita sedang letih, sedangkan bila dengan mendengarkan bacaan Al-Qur’an kita merasa itu sudah biasa.

Menganggap bahwa janji yang nonformal, baik itu dengan teman maupun dengan siapapun yang tidak memiliki ikatan “kerja” dengan kita, adalah janji yang biasa saja, yang mungkin kita menjadi agak lalai dalam memenuhinya. Padahal janji adalah suatu ikatan kita dengan Allah.

Saat kita diamanahi sebagai pemimpin, cenderung untuk menjadi lebih dekat dengan-Nya dan harus lebih “berhati-hati”, dibandingkan dengan saat kita  menjadi staf. Memang, sebagai seorang pemimpin pada dasarnya sebaiknya menjadi teladan, tapi terkadang ada kerancuan niat di sini.

Ketika terlambat untuk kuliah atau menghadiri acara penting lainnya, bisa jadi kita akan terburu-buru sekali. Namun, di saat kita terlambat shalat tepat waktu atau terlambat beribadah dengan-Nya, adakah kita setergesa itu?

Semoga Allah selalu mengampuni kita.


Mengapa ada Israel? (4)

Sejarah Bangsa Palestina (Bag ke-4): Rakyat Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza (Palestina Terjajah 1967)

Oleh: Tim dakwatuna.com


Kirim

dakwatuna.com – Di atas telah kami sebutkan bahwa yang tersisa dari wilayah Palestina yang dikuasai orang Arab (Palestina) paska perang tahun 1948 sekitar 23% dari total luas tanah suci Palestina. Wilayah ini terbagi menjadi dua bagian: pertama disebut wilayah Tepi Barat sungai Yordan yang luasnya 5878 kilometer persegi (21,77%) dari total luas tanah Palestina, dan kedua disebut wilayah Jalur Gaza yang luasnya 363 kilometer persegi (1,33%) dari total luas tanah Palestina. Sedianya negara Palestina akan didirikan di kedua wilayah ini menurut keputusan Liga Arab dan PBB. Namun pihak Yordania menggabungkan wilayah Tepi Barat ke dalam wilayahnya pada tahun 1950. Sementara Mesir menjadikan wilayah Jalur Gaza di bawah kuasa administratifnya secara langsung tanpa menggabungkan dengan wilayahnya. Kondisi ini terus berlangsung sampai pasukan Zionis Israel melakukan aksi pendudukan atas wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza pada Juni 1967.

Pada tahun 1948, Jumlah penduduk Tepi Barat diperkirakan sekitar 400 ribu jiwa. Dan akibat pengusiran yang dilakukan Zionis Israel terhadap orang-orang Palestina dalam perang tahun 1948, maka sebanyak 280 ribu jiwa lari ke Tepi Barat dan menetap di 21 kamp pengungsi dan sebagiannya tersebar di kota-kota dan desa-desa Tepi Barat. Di pihak lain, jumlah penduduk Jalur Gaza, menjelang tragedi tahun 1948, sekitar 75 ribu jiwa. Paska tragedi ini jumlah penduduk Jalur Gaza menjadi 200 ribu jiwa pada tahun 1949, dan pada tahun 1950 jumlahnya sekitar 288 ribu jiwa. Para pengungsi Palestina ‘48 tinggal di 8 kamp pengungsi Jalur Gaza juga di kota-kota dan desa-desa Jalur Gaza. Bisa dibilang 69% penduduk Jalur Gaza adalah para pengungsi Palestina ‘48. Namun jumlah mereka mengalami penurunan akibat eksodus ke luar. Pada tahun 1967 jumlah pengungsi Palestina di Jalur Gaza sekitar 59% dari total jumlah penduduknya Jalur Gaza.120

Sumber-sumber ekonomi di Tepi Barat dan Jalur Gaza tidak cukup untuk menanggung pertambahan jumlah penduduk yang tiba-tiba ini. Demikian juga kondisi ekonomi Yordania dan Mesir tidak memungkinkan untuk menyediakan infrastruktur yang mampu menyerap SDM dan potensi para pengungsi Palestina. Ratusan ribu pengungsi Palestina hidup dalam kenestapaan dan penderitaan yang tidak bisa digambarkan, mereka tinggal di kemah-kemah selama bertahun-tahun, bahkan sebagian ada yang tinggal di gua-gua, semua derita terkumpul dalam satu tenda, bila musim panas tiba serasa terpanggang oleh panas dan bila musim dingin tiba disergap oleh udara dingin yang menusuk-nusuk daging dan tulang, diguyur hujan dan sakitnya dalam pembuangan serta ditambah hilangnya pekerjaan dan sumber penghidupan.

Meski demikian, para pengungsi Palestina di Jalur Gaza menolak dengan segenap tekad rencana penempatan dan pemukiman mereka di tempat lain di luar Palestina. Hati mereka telah dan akan terus terikat untuk kembali ke tanah dan kampung halaman mereka yang terampas. Meski kerasnya kondisi yang dialami, orang-orang Palestina tetap menunjukkan keinginan mereka yang besar untuk belajar dan meningkatkan kualitas akademik. Dalam beberapa tahun saja tingkat orang Palestina yang berpendidikan lebih baik di tingkat regional Arab bahkan menyaingi tingkat pendidikan di negara-negara Eropa.

Di bawah tekanan kondisi ini dan kebutuhan negara-negara teluk akan kader-kader berpendidikan dan tangan-tangan terampil, bersamaan dengan munculnya minyak dan kebangkitan ekonomi di negara-negara teluk, maka banyak orang-orang Palestina yang pindah ke negara-negara teluk untuk memperbaiki kondisi mereka dan turut memberikan saham dalam pertumbuhan negara-negara tersebut, tanpa harus melupakan bahwa kerja itu demi persoalan mereka yang membuat mereka pergi dari Palestina. Oleh karena itu, jumlah penduduk di Tepi Barat dan Jalur Gaza pada tahun 50-an dan 60-an tidak merefleksikan pertumbuhan alami orang-orang Palestina akibat hijrahnya puluhan ribu orang ke timur Yordania dan negara-negara teluk.

Pada tahun 1966 (sesaat menjelang perang tahun 1967), jumlah orang Palestina di Tepi Barat 830 ribu jiwa dan di Jalur Gaza 455 ribu jiwa. Namun setelah pendudukan Zionis Israel atas Tepi Barat dan Jalur Gaza pada Juni 1967, jumlah orang Palestina di Tepi Barat (berdasarkan hitungan pihak Zionis Israel) sekitar 665 ribu jiwa (66 ribu di antaranya warga al Quds Timur) dan di Jalur Gaza 354 ribu jiwa. Ini artinya apabila diperhatikan pertambahan penduduk alami selama setahun (40 ribu jiwa), maka jumlah orang-orang Palestina yang terusir atau meninggalkan Tepi Barat dan Jalur Gaza akibat perang tahun 1967 mencapai lebih 300 ribu jiwa. Mereka semua dilarang (diharamkan) kembali ke Palestina, dan bergabung dengan saudara-saudara mereka yang telah bekerja di negara-negara teluk, di Yordania atau yang lainnya sehingga menambah jumlah pengungsi Palestina yang ada di luar Palestina.121

Di bawah penjajah Israel, rezim Zionis sengaja melaksanakan rencana-rencana pengosongan wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza dari penduduknya secara sistematis dan bertahap. Hal itu direalisasikan dengan menempatkan penduduk di bawah kondisi keamanan, ekonomi dan kehidupan yang tidak bisa mereka tanggung. Untuk merealisasikan tujuan-tujuan ini, pihak penjajah Zionis Israel mengadopsi kebijakan-kebijakan berikut:

  1. Membuat teror, menebar ruh ketakutan dan kecemasan di tengah-tengah penduduk melalui pos-pos perlintasan militer, penyerbuan-penyerbuan di malam hari, operasi-operasi pembunuhan dan penyiksaan.
  2. Menjepit penduduk secara ekonomi, politik, social dan kejiwaan.
  3. Dengan sengaja merendahkan penduduk dan menghinakan mereka serta menebarkan ruh keputusasaan di antara mereka. Sampai terkenal bahwa serdadu Zionis Israel meminta orang umum di jalan untuk mengikatkan tali sepatu serdadu atau menirukan suara-suara binatang semisal anjing bahkan sampai menyuruhnya untuk mencium dubur keledai dan lain sebagainya.
  4. Menebar kerusakan dan narkoba di tengah-tengah penduduk, terutama di kalangan para pemuda, serta mempermudah jalan-jalan menuju perbuatan zina, asusila dan pelacuran.
  5. Penggusuran lahan-lahan warga yang bagus untuk pertanian dan pelarangan terhadap orang-orang Palestina untuk mendapatkan hak mereka atas air untuk mengairi lahan-lahan pertanian mereka, membanjiri pasar-pasar Palestina dengan hasil-hasil pertanian dan industri Israel yang murah guna melumpuhkan ekonomi domestik Palestina, untuk mencegah orang-orang Palestina memproduksi dan bersandar di atas kakinya sendiri, menjadikan mereka sebagai bangsa yang bergantung kepada kerja nomor dua dan sampingan yang disediakan oleh Zionis Israel. Sehingga kehidupan para pekerja Palestina di bawah “kemurahan” keputusan Zionis Israel dan menjadi alat murahan guna mensukseskan proyek-proyek dan instansi-instansi Zionis Israel.
  6. Pembangunan permukiman-permukiman Yahudi, mendatangkan puluhan ribu kaum pemukim pendatang dan mempersenjatai mereka, memutus jalur yang menghubungkan antara Tepi Barat dan Jalur Gaza serta mencabik-cabiknya.
  7. Mengadopsi politik pembodohan dengan menyerang kampus-kampus Palestina dan menutupnya, mereduksi dan memangkas kesempatan kerja bagi lulusan sekolah sehingga belajar menjadi tidak memiliki tujuan praktis.

Untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan ini pihak penjajah Zionis Israel mengeluarkan instruksi militer nomor 2 pada Juni 1967. Instruksi ini intinya adalah pemusatan kekuasaan di tangan penguasa militer. Pada ayat 3a dari isi instruksi ini disebutkan, “Semua kekuasaan hokum, undang-undang, penunjukan dan pengelolaan berkaitan dengan kawasan atau penduduknya, dari sekarang dan seterusnya, dibebankan pada saya sendiri secara pribadi, atau kepada siapa saja yang saya tunjuk untuk tujuan ini, atau siapa saja yang bertugas menggantikan saya.” Zionis Israel tidak mempedulikan undang-undang internasional yang melarang membuat perubahan di wilayah-wilayah terjajah, mereka terus gencar melakukan siasat yahudisasi.122 Seorang koresponden harian Inggris Guardian telah menulis tentang orang-orang Palestina Jalur Gaza dan Tepi Barat, “Sejak tahun mereka tidak pernah menikmati hak-haknya sama sekali, tidak ada lembaga apapun yang mewakilinya, juga tidak ada negara yang memungkinkan mereka mengadukan nasib dan penderitaannya, tidak ada pihak tertentu yang melindungi mereka. Semua gerakan dan aktivitas mereka harus tunduk kepada kekuasaan represif penguasa militer penjajah Israel. Yang serban memungkinkan untuk menahan mereka, menyekap atau mengusirnya tanpa ada campur tangan pihak manapun yang mampu. Juga boleh menghancurkan rumah-rumah mereka, menghancurkan fasilitas-fasilitas hak milik mereka, menggusur tanah dan lahannya, membakar hasil pertanian dan membongkar tanaman mereka.”123

Siasat-siasat politik ini tidak bisa sukses secara umum dalam membungkam rakyat dari menuntut hak mereka dan teguh mempertahankan tanahnya. Bahkan sebaliknya, 20 tahun setelah mengalami penderitaan meletuslah intifadhah besar di Tepi Barat pada 8 Desember 1987, yang menunjukkan sebuah fenomena agung tentang semangat keteguhan dan perlawanan dalam sejarah modern. Meski demikian, Zionis Israel berhasil merealisasikan sebagian proyek mereka. Di antaranya adalah terusirnya sekitar 220 ribu jiwa dari Tepi Barat dan Jalur Gaza selama tahun 1967 – 1985 untuk menuntut ilmu, mencari rezki atau mencari hidup yang lebih terhormat, yang sebagian besarnya adalah pemuda. Ditambah sekitar 20 ribu pemuda terpaksa meninggalkan Palestina setiap tahunnya untuk mencari kerja.124 Zionis Israel berhasil melatih ratusan antek yang telah dirusak jiwa mereka dengan pelacuran dan obat-obat terlarang, muncullah berbagai bentuk penyimpangan dan kerusakan, terutama pada awal-awal tahun 70-an. Namun kemunculan shahwah islamiyah (kebangkitan Islam) dan penyebarannya telah berhasil menghadapi fenomena ini dan membatasinya, yang kemudian dihancurkan selama intifadhah.

Data yang dibuat Pusat Data dan Statistik pemerintah Palestina menunjukkan bahwa data awal pada tahun 1997 mengenai jumlah penduduk di Tepi Barat (termasuk di al Quds atau Jerusalem) adalah satu juta 870 ribu jiwa. Sementara di Jalur Gaza satu juta 21 ribu jiwa. Berdasarkan tingkat pertumbuhan alami (normal) maka jumlah penduduk di Jalur Gaza dan Tepi Barat pada tahun 2001 adalah 3 juta 371 jiwa. Oleh karena tingkat pertambahan penduduk yang tinggi maka masyarakat Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza merupakan masyarakat pemuda, di mana jumlah anak-anak (di bawah 15 tahun) mencapai 50% dari total jumlah penduduk. Meskipun ini menggagalkan proyek-proyek pengusiran dan pengosongan yang dilakukan penjajah Zionis Israel dan hampir menghancurkan proyek mereka untuk meyahudikan tanah suci, namun keluarga-keluarga Palestina menanggung beban ekonomi besar, yang pada dasarnya mereka mengalami kesulitan yang luar biasa besarnya.125

Berikut adalah daftar data penduduk Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza berdasarkan pendataan terakhir yang dilakukan pemerintah Palestina pada tahun 1997. Ditambah tingkat pertumbuhan alami penduduk Palestina yaitu sekitar 3,4% per tahun, bersama dengan prediksi jumlah penduduk Palestina hingga tahun 2005.126

Tahun 2000 2001 2002 2003 2005
Tepi Barat 2.137.210 2.203.672 2.278.596 2.356.606 2.519.004
Jalur Gaza 1.127.723 1.167.099 1.206.781 1.247.811 1.334.105
Total 3.266.933 3.370.771 3.485.377 3.604.417 3.853.109

Pada awal-awal aksinya, penjajah Zionis Israel memasukkan Jerusalem Timur ke dalam kekuasaannya sehingga warga al Quds (Jerusalem) secara resmi (menurut penjajah Israel) bagian dari entitas Zionis Israel. Demikian juga telah terjadi perluasan wilayah geografis al Quds hingga meliputi 20% wilayah Tepi Barat. Ini diikuti rezim penjajah Zionis Israel dengan menguasai lagi wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza melalui rencana strategis yang terprogram, sehingga bersamaan dengan akhir tahun 1999 Zionis Israel berhasil menguasai sekitar 62,7% wilayah Tepi Barat dan 43% dari wilayah Jalur Gaza. Di Tepi Barat mereka telah membangun lebih 160 kompleks koloni permukiman Yahudi yang dihuni sekitar 200 ribu pemukim Yahudi. Mereka juga telah membangun 16 (sekarang 21) kompleks koloni permukiman Yahudi yang dihuni sekitar 5 ribu pemukim Yahudi. Target dan tujuan dari siasat-siasat ini adalah yahudisasi tanah dan penduduk Palestina secara historis, dan menguasai semua wilayah yang memiliki urgensi strategis dan keamanan guna mengukuhkan penguasaan militer atas Tepi Barat dan Jalur Gaza, serta menggenjet kota-kota dan desa-desa Palestina dengan sabuk koloni permukiman. Sehingga menjadi pulau-pulau kecil terisolasi yang kehilangan kesatuan dan identitas bersamanya. Juga pengokohan realita baru di atas tanah Palestina yang menjadi sangat tidak mungkin merubahnya dengan kompromi politik apapun di masa yang ada datang. Demikianlah, di saat jumlah penduduk di Tepi Barat dan Jalur Gaza bertambah berlipat-lipat, serta bertambah banyak kebutuhan mereka, rezim penjajah Zionis Israel merampas tanah dan harta milik mereka untuk menambah penderitaan dan sakit mereka.

Di pihak lain, penguasa militer Zionis Israel telah menguasai seluruh sumber air di Tepi Barat, melarang penggalian sumur-sumur baru, atau memperdalam sumur-sumur lama dan membatasi bagian air bagi orang-orang Palestina. Pada tahun 1990 misalnya (contoh yang mewakili tahun-tahun yang lainnya), orang-orang Palestina hanya diberi jatah 17% air tanah di wilayah mereka di Tepi Barat sementara 83% sisanya digunakan di dalam wilayah entitas Zionis Israel atau di permukiman-permukiman Yahudi di Tepi Barat. Orang Palestina juga dilarang mengairi lahan pertanian lebih dari 6% dari tanah mereka, sementara pemukim Yahudi boleh mengairi 69% dari tanah yang mereka kuasai. Setiap orang Palestina hanya dibatasi 127 m3 setiap tahunnya sementara bagi pemukim Yahudi bisa mendapatkan 1600 m3, artinya 12 kali lipat dari orang Palestina.127 Meski telah ada perjanjian kompromi damai (Oslo 1993) dan adanya pemerintahan Palestina di sejumlah wilayah Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza, namun orang-orang Zionis Israel tetap dengan “hak mereka” melarang penggalian apapun buat sumur tanpa izin dari mereka. Menteri pengairan Palestina Nabiel Syarif mengakui pihaknya pernah melakukan pertemuan satu meja dengan perunding Zionis Israel selama 3 tahun untuk menggali satu sumur dekat Jenin, namun dia tidak mendapatkan izin untuk itu!!128

Begitulah, semuanya menjadi mustahil bagi orang-orang Palestina untuk menghasilkan dan mengembangkan tanah-tanah pertanian mereka secara intensif. Dalam waktu yang sama rezim penjajah Zionis Israel membanjiri Palestina dengan produk-produk pertanian murah sementara mereka melarang orang-orang menjual keluar (ke wilayah Israel) hasil pertanian mereka dan mengenakan produk pertanian Palestina dengan pajak yang sangat tinggi. Dengan begitu biaya produksi pertanian Palestina menjadi sangat tinggi dan tidak efisien secara ekonomi. Instansi-instansi Zionis Israel terutama bidang konstruksi membuka kesempatan kerja bagi orang-orang Palestina. Maka dengan terpaksa puluhan ribu orang Palestina meninggalkan pertanian dan bekerja sebagai tenaga rendahan untuk ekonomi Israel.

Sekitar 100 – 120 ribu pekerja Palestina bekerja di wilayah Palestina terjajah 1948 atau yang disebut “Israel”, dengan mendapatkan gaji sepertiga atau seperlima dari gaji pekerja Yahudi, karena keistimewaan yang dimiliki pekerja Yahudi. Banyak calo Yahudi yang menggoda wanita dan anak-anak agar meninggalkan rumah dan sekolah mereka demi mendapatkan tenaga kerja yang murah. Hal ini sudah barang tentu memiliki dampak social yang negative sangat besar. Kebanyakan dari mereka bekerja dengan gaji harian, yang mungkin saja dipecat dari pekerjaannya setiap saat. Mereka tidak memiliki jaminan social dan kesehatan, mereka juga akan kehilangan pekerjaan mereka manakala wilayah Palestina ‘48 ditutup dengan alasan keamanan atau karena sebab-sebab aksi serangan berani mati maupun karena moment-moment nasional.., sampai akhirnya dibuka kembali buat mereka. Demikianlah maka pasar “Israel” telah menguasai sekitar 39% tangan-tangan pekerja Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza, dan ini menjadikan kehidupan ribuan orang beserta ratusan ribu orang yang ditanggungnya termasuk istri dan anak-anak mereka ter sandera oleh pihak Zionis Israel.129 Meski angka ini berkurang saat meletus intifadhah tahun 1987 – 1993 menjadi 12,3%, namun angka itu kembali meningkat setelah perjanjian Oslo tahun 1993. Di pihak lain, rakyat Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza dilanda angka pengangguran sangat tinggi yang rata-ratanya selama tahun-tahun pendudukan lebih 20%. Pada tahun 1997 tingkat angka pengangguran mencapai 31,5% di antaranya 18,2 di Tepi Barat dan 13,6% di Jalur Gaza. Dan sampai akhir tahun 1998 masih ada 20% keluarga Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza hidup di bawah garis kemiskinan.130

Penjajah Zionis Israel terus menguasai ekonomi Palestina hingga menjadikannya kelompok marjinal dan mengekor ekonomi Israel. Kesepakatan kompromi damai tidak banyak bisa membebaskan pengepungan ini, karena masih 90% perdagangan luar negeri berada di bawah keinginan, syarat dan ikatan Zionis Israel ditambah lebih 80% sumber air Palestina yang dikuasai penjajah, mereka menguasai apa saja yang keluar masuk pelabuhan, bandara dan perbatasan.

Sejak pendudukan Zionis Israel, institusi-institusi pendidikan berada di bawah kendali penguasa militer, meski tetap dibiarkan system pendidikan Yordania (di Tepi Barat) dan Mesir (di Jalur Gaza) secara formalistic. Maka wewenang untuk menunjuk para guru atau memecat nya ada pada pihak penguasa militer Israel. Hal yang sama juga pada penetapan kurikulum, pengujian buku-buku sekolah, penetapan program-program baru atau pembatalan program yang ada serta pembangunan sekolah-sekolah baru. Berbagai bidang terabaikan dan tidak mendapatkan perhatian sama sekali dengan tidak adanya kepada perpustakaan dan teknik yang teruji sejak tahun 1967. Berbagai kurikulum dihapuskan dari banyak sekolah yang ada, di antaranya adalah pendidikan jasmani, keterampilan dan latihan rumah. Jumlah sekolah negeri terus berkurang dari 884 pada tahun 1967 menjadi 790 pada tahun 1979 meskipun jumlah penduduk terus bertambah. Ditetapkan daftar besar mengenai buku-buku yang dilarang di sekolah yang jumlahnya mencapai 1600 pada tahun 1986, terutama yang berkaitan dengan sejarah Palestina atau peradabannya. Juga dilarang pengajaran buku-buku metodologi yang menjadi kurikulum di sekolah-sekolah. Di antaranya adalah pelarangan penggunaan 9 dari 27 buku di tingkat sekolah dasar, 8 dari 20 buku tingkat menengah pertama di sekolah-sekolah UNRWA (United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees, sebuah lembaga bantuan PBB untuk pengungsi Palestina, ptj). Berdasarkan instruksi militer nomor 854 yang dikeluarkan pada 6 Juli 1980, diberikan kepada komandan militer Zionis Israel untuk melakukan intervensi di kampus-kampus dan lembaga-lembaga pendidikan tinggi, baik berkenaan dengan system, metode maupun manajemen sarana pendidikan dan pengajaran. Sehingga tidak ada bedanya dengan sekolah-sekolah dasar dari sisi control dan pengawasan militer.131

Perlu menjadi catatan bahwa semua langkah-langkah dan kebijakan penjajah Zionis Israel tidak pernah membuat putra-putra Palestina abai begitu saja terhadap kegandrungan mereka kepada studi dan belajar. Justru itu menambah tekad mereka untuk belajar yang disertai dengan perjuangan politik, jihad, mogok dan demo-demo agar proses belajar mengajar dapat terus berjalan, bahkan mengalami pertumbuhan meski di bawah penjajahan. Pada tahun ajaran 1997/1998 jumlah sekolah negeri mencapai 1175, milik UNRWA mencapai 265 dan sekolah khusus mencapai 171 buah, ditambah 789 buah tamah kanak-kanak. Orang-orang Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza juga berhasil mendirikan 8 perguruan tinggi (6 di Tepi Barat dan 2 di Jalur Gaza). Pada tahun akademik 1992/1993 kampus-kampus ini menampung 20500 mahasiswa, meski beberapa kali mendapatkan ancaman penutupan. Seperti Universitas Beer Zeit, kampus ini ditutup selama 5 bulan pada tahun 1982, Universitas an Najah ditutup selama 4 bulan pada tahun 1983 dan selama 4 bulan lagi pada tahun 1984 kemudian 2 bulan lagi pada tahun 1985 dan terus bertambah masa penutupan selama intifadhah berlangsung sejak tahun 1987. Tekanan juga terus berlangsung terhadap para mahasiswa dan dosen dengan melakukan penangkapan terhadap mereka, pengawasan sangat ketat terhadap anggaran dan sumber dana pendidikan, pelarangan terhadap akademisi dari luar yang memiliki kemampuan mengajar di kampus-kampus Palestina kecuali dengan batasan-batasan yang membuat sesuatunya serba tidak mungkin (mustahil). Pada tahun 1985 pihak penjajah Zionis Israel melarang 39 dosen Palestina memberikan kuliah di Universitas Islam Gaza, dengan dalih mereka orang Palestina dari luar. Hal ini mengakibatkan pengusiran para dosen, termasuk rector pengganti yang kala itu dijabat oleh Dr. Muhammad Sheyam. Di samping kampus-kampus tersebut masih ada lagi 16 institut (kuliah masyarakat), 14 di antaranya di Tepi Barat dan 2 di Jalur Gaza.132

Sebagaimana bidang pendidikan, bidang kesehatan juga mengalami pengabaian dan terlantar di bawah penjajah Israel. Meski jumlah penduduk terus bertambah, namun jumlah rumah sakit pemerintah menurun dari 14 buah pada tahun 1967 menjadi 10 buah pada tahun 1993. Sementara anggaran untuk pelayanan kesehatan kurang dari 2% bila dibandingkan dengan anggaran kesehatan pihak Zionis Israel. Untuk sampai pada batas minimal, anggaran kesehatan Palestina ini harus ditingkatkan sampai 15 kali lipat. Anggaran bidang kesehatan pada tahun 1990 di Tepi Barat hanya 10 juta dolar dan itu hanya sebanding dengan 15% dari anggaran satu rumah sakit di Tel Aviv.133

Pihak penguasa militer penjajah Zionis Israel sengaja tidak menciptakan perkembangan apapun dalam peralatan perlengkapan dan sarana medis atau pelatihan dan memasukkan paramedic yang memiliki keahlian. Sumber-sumber lembaga kesehatan internasional WHO menyebut peralatan dan sarana medis yang ada sudah tidak layak pakai, tidak lebih ungkapan yang patut untuk menyebutnya kecuali sebagai barang peninggalan (bekas).134

Terjadi perbaikan dalam pelayanan kesehatan setelah pemerintah otoritas Palestina berkuasa di beberapa wilayah di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Bersambung…

___

Referensi: Dr. Muhsin Muhammad Shaleh, Warsito, Lc (pent), Ardhu Filistin wa Sya’buha (Tanah Palestina dan Rakyatnya), Seri Kajian Sistematis tentang Issu Palestina (1).

___

Catatan kaki:

120 Lihat al mausu’ah al filistiniyah 2/559 – 560, George Qashifi, al Rihan al Dimografi fi Filistin (Beirut: Muasasah al Dirasat al Filistiniyah, 1990) hlm. 13.

121 Ibid. hlm. 559.

122 Don Perest, The West Bank: History, Society and Economiy (Boulder: West View, 1986) halm.80.

123 Devid Glimor, al Matrudun, terjemahan dalam bahasa Arab oleh Syakir Ibrahim (Kairo: Madbuli, 1993) hlm. 141.

124 Harian al Anba’ edisi 3 Februari 1986.

125 Harian al Itihad, Uni Emirat Arab, ediri 8 November 1999. Perkiraan penduduk pada tahun 2001 hampir persis dengan yang dinyatakan Hasan Abu Lubda, direktur Pusat Data dan Statistik Palestina, bahwa pada akhir September 2001 jumlah penduduk Tepi Barat 2 juta 210 ribu jiwa sedang jumlah penduduk Jalur Gaza 1 juta 120 ribu. Lihat harian al Khalij edisi 29 September 2001.

126 Angka 3,4% adalah prosentase pertambahan umum alami penduduk Palestina, bagaiamana pun juga itu adalah angka pertambaha perkiraan yang mendekati kebenaran. Namun perlu disebutkan di sini bahwa angka ini termasuk angka yang rendah bagi pertambahan penduduk Palestina di Jalur Gaza secara khusus, yang merupakan daerah yang paling banyak angka pertumbuhannya di dunia yang meningkat angka pertambahannya hingga 4% setiap tahun. Berdasarkan perkiraan pertambahan 4%, maka jumlah penduduk Palestina di Jalur Gaza tahun 2001 adalah 1.194.426 dan pada tahun 2003 adalah 1.291.891, pada tahun 2005 menjadi 1.397.309 jiwa, wallahu a’lam.

127 Maha Abdul Hadi, al Audha’ al Iqtishadiyah wa al Furash al Mutahah: al Audha’ al Iqtishadiyah wal Insaniyah fii al Dhifah al Gharbiyah wa Qutha’ Ghaza (Aman: Markaz Dirasat al Syarq al Awsath, 1999) hlm. 14 – 16.

128 Harian al Khalij edisi 3 Maret 2000.

129 Lihat: Nabiel al Sahli, “Sukan al Dhifah wal Qutha’ di harian al Syarq al Awsath edisi 14 Agustus 1996.

130 Lihat harian al Khalij edisi 10 Maret 2001 dan makalah Abdul Ghani al Syami “Taqrir Ihshai Filistini Rasmi” di al Audah edisi September 1998.

131 Seputar kondisi pengajaran di Tepi Barat dan Jalur Gaza, lihat: Muhammad Halaj, al Tarbiyah wa al Ta’lim al Filistiniyani fi al Aradhi al Muhtalah dan Abdul Fatah al Jayusi, al Shumud wa al Tahaddi (Aman: Darul Karmel, 1988), hlm. 84 – 88 dan 103 – 106. Harian al Ra’yu al ‘Am, Kuwait edisi 14 Juli 1986.

132 Lihat al Audah edisi September 1998 dan harian al Ra’yu al ‘Am edisi 15 Juli 1986.

133 Samir Yusuf, “al Wadh’ al Shihi fi al Dhifah al Gharbiyah wa al Qutha’ Karitsatun Haqiqiyah, di harian al Dustur edisi 31 Oktober 1993.

134 Al Jayusi, Ibid. hlm. 112 – 113.